Medan di kala malam


 

Tidak terasa mulai dari tahun 1997 sampai sekarang kami tinggal di Medan, sudah seperti terasa sebagai kampung halaman sendiri. Sudah hampir 10 tahun sudah Medan kian berubah. Lalu lintas kian semakin padat, kendaraan pribadi, angkutan umum & pengendara motor semakin menambah kemacetan lalu lintas. Lebih-lebih tingkah laku angkutan umum yang berkendara seenaknya sendiri.

 

 

 

 

 

Ada anekdot yang berkembang di Medan bahwa angkutan umum ini hanya ‘Tuhan’ dan Sopir sendiri yang tau kapan belok dan kapan berhenti. Sedangkan pengemudi dibelakangnya hanya bisa ngomel didalam hati (berhenti tanpa lampu rem, belok tanpa lampu sen, kadang-kadangpun angkutan umum berhenti ditengah jalan ……kurang asem).

 

 

 

 

Disamping kesemerawutan kota Medan, Medan pun tetap menyimpan sejuta hal-hal yang special. Makanannya tetap ada yang berciri khas khusus. Minggu ini keinginan untuk makan sop kambing di jalan Nusantara (samping Kesawan Square dan dekan Merdeka Walk) cukup menggoda. Tapi sayang hanya jualan di malam hari, jadi bisanya hanya dihari Sabtu malam. Rasa sop kambingnya gak saya temukan di kota lain….delicious.

 

 

Semoga kota Medan hidup selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s